Misteri Maha Patih Gajah Mada, Benarkah Moksa, Menghilang Dari Muka Bumi ?

- Penulis Berita

Kamis, 4 Agustus 2022 - 07:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Maha Patih Gajah Mada.ft kaskus

Gambar Maha Patih Gajah Mada.ft kaskus

BandungPuber. com — Asal usul Patih Majapahit Gajah Mada masih menjadi misteri hingga saat ini. Namun bukan hanya kelahiran dan latar belakangnya, tokoh yang kesohor karena sumpah Palapa ini juga masih simpang siur.

Disebutkan dalam kitab Kakawin Nagarakretagama, sekembalinya Hayam Wuruk dari upacara keagamaan di Simping, dia menjumpai Gajah Mada telah sakit.
menyelimuti akhir hidup Mahapatih Gajah Mada yang dikisahkan melakukan meditasi terakhir dan moksa (menghilang dari muka bumi) di kawasan Madakaripura, Probolinggo, Jawa Timur.
Mahapatih Kerajaan Majapahit yang berhasil menyatukan Nusantara dengan Sumpah Palapa ini menyucikan diri dengan bertapa demi mencapai moksa.

Misteri Mahapatih Gajah Mada Meditasi di Pertapaan Madakaripura hingga Moksa
Kawasan Madakaripura disebutkan dalam kitab Negarakertagama merupakan hadiah Raja Majapahit, Hayam Wuruk yang diberikan untuk Mahapatih Gajah Mada.
Patung Mahapatih Gajah Mada pun dibangun di dekat lokasi air terjun.
Air terjun di kawasan Madakaripura dipercaya oleh sejumlah masyarakat di sekitar lokasi sebagai tempat untuk meditasi terakhir hingga akhirnya mencapai moksa.
Sehingga tak mengherankan jika banyak orang yang datang untuk bermeditasi, khususnya pada hari-hari yang dikeramatkan.
Aliran air di terjun Madakaripura konon tak pernah berhenti mengalir.
Oleh karenanya, lokasi Mahapatih Gajah Mada bersemedi ini disebut juga sebagai air terjun abadi.
Air terjun Madakaripura berada di dalam kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru.
Misteri Mahapatih Gajah Mada Meditasi di Pertapaan Madakaripura hingga Moksa
Jika benar apa yang disampaikan Empu Prapanca dalam kitab Negarakertagama itu, maka sesungguhnya tidak ada keraguan soal di mana Gajah Mada menghabiskan sisa hidupnya setelah tidak menjadi Mahapatih. Juga akhir hidupnya di pertapaan Madakaripura setidaknya sedikit menjawab pertanyaan terkait asal usul Gajah Mada.
Dalam lontar Badad Gajah Maddha diceritakan bahwa orangtua Gajah Mada adalah pendeta hindu di Wilatikta (Majapahit).
Ayahnya bernama Mpu Curadharmayogi dan ibunya bernama Patni Nuriratih, keduanya diangkat menjadi pendeta oleh Mpu Ragarunting.
Dalam aturan yang berlaku untuk pendeta, kedua pasangan ini dilarang bersetubuh meski sudah berstatus nikah.
Selanjutnya Curadharmayogi memilih berdomisili di luar Wilatikta, di asrama Gili Madri, sedangkan Patni Nariratih berdomisili di Wilatikta.
Meski terpisah, namun keduanya intens bertemu.
Patni setiap hari mengunjungi sang suami untuk mengantarkan sarapan dan kebutuhan harian lainnya.
Hingga pada suatu hari kejadian tidak biasa terjadi di antara keduanya.
Saat hendak menyantap masakan sang istri, tanpa sengaja gelas tersenggol dan air pun tumpah.
Melihat hal itu, Curadharmayogi pun pergi mencari air minum.
Sedangkan sang istri ditinggal sendirian.
Proses kehamilan Patni diawali dengan perbuatan Hyang Brahma (Dewa Api) yang tergoda untuk bersetubuh dengan Patni.
Maka berubahlah wujud sang Dewa ini menyerupai Curadharmayogi dan mendatangi Patni, di saat suaminya yang asli sedang pergi mencari air minum.
Kehamilan Patni seolah tamparan bagi keduanya.
Bagaimana tidak, keduanya sudah berjanji untuk meninggalkan kenikmatan dunia demi agama.
Karena didorong rasa malu itulah keduanya memutuskan kabur ke hutan.
Pelarian mereka berakhir di dekat Gunung Semeru.
Dari sana keduanya menuju ke arah Barat Daya, lalu sampai di Desa Maddha.
Si jabang bayi akhirnya melahirkan di sebuah balai agung yang terletak di desa tersebut pada 1299.
Usai melahirkan, Patni bersama suaminya meninggalkan buah hati mereka seorang diri. Keduanya melanjutkan pelarian menuju gunung.
Beruntung, tersebut dipungut oleh pemuka desa setempat.
Kabar penemuan bayi itu sampai juga ke telinga salah satu patih tersohor dari Wilatikta. Sang patih lantas merawat dan membawa bayi yang kemudian diberi nama Maddha ini ke Majapahit.
Kisah ini terdapat dalam lontar Badad Gajah Maddha.
Kopian cerita yang ditulis di atas lontar ini terdapat di perpustakaan lontar Fakultas Sastra, Universitas Udayana.
Penulisan di lontar menggunakan bahasa Bali-Tengahan. Hingga kini memang belum diketahui lontar asli yang menceritakan sang patih ini.
Bayi yang dibuang itu kemudian dikenal Gajah Mada yang menjadi tokoh sentral di Kerajaan Majapahit.
Masa kejayaan Majapahit tidak lepas dari figur Gajah Mada.
Karir militernya di Majapahit mulai menanjak setelah dia berhasil menyelamatkan Jayanegara, raja kedua Majapahit dalam peristiwa pemberontakan Ra Kuti pada 1319.
Dalam kitab Pararaton diceritakan, pemberontakan di zaman Jayanegara dilakukan oleh para Dharmaputra yang tak lain loyalis Raden Wijaya.
Pemberontakan ini terjadi karena raja kedua Majapahit ini berdarah campuran Jawa dan etnis Melayu, bukan asli keturunan Kertanagara.
Seperti diketahui, bahwa Jayanegara merupakan anak hasil perkawinan antara Raden Wijaya dengan Dara Petak.
Pemberontakan ini dipimpin oleh Ra Kuti, seorang perwira Majapahit dari daerah Pajarakan (sekarang Probolinggo, Jawa Timur). Dalam pemberontakan Ra Kuti, Majapahit berhasil direbut dari tangan Jayanegara.
Karena jasa besarnya tersebut, Gajah Mada diangkat sebagai patih Majapahit.
Dari sini, karir militer Gajah Mada semakin moncer.
Di hari-hari berikutnya, dipercaya untuk menumpas para pembelot kerajaan.
Tercatat karena jasanya itu, dia pernah diangkat sebagai Patih Doha (Kediri) dan Patih Kahuripan (sekarang Sidoarjo).
Di masa pemerintahan Tribhuwana Wijayatunggadewi, posisi Gajah Mada diangkat lebih tinggi menjadi mahapatih setelah berhasil menumpas pemberontakan di Sadeng dan Keta (masuk Kabupaten Situbondo).
Pada periode inilah Gajah Mada melakukan ekspansi besar-besaran kerajaan Majapahit ke segala penjuru.
Banyak kerajaan penting berhasil direbut Majapahit, seperti Kerajaan Pejeng (Bali), sisa-sisa kerajaan Sriwijaya dan Malayu.
Puncaknya, Gajah Mada diangkat sebagai Patih Amangkubumi dan kembali menjadi tokoh sentral kemajuan Majapahit di zaman Hayam Wuruk, termasuk salah satu peristiwa penting dan kontroversi hingga kini masih simpang siur yaitu Sumpah Palapa.
Dalam Kakawin Nagarakertagama karya Empu Prapanca, kekuasaan Majapahit yang didapat dari peperangan maupun monopoli dagang terbentang dari Papua, Sumatera, Tumasik (sekarang disebut Singapura), hingga sebagian pulau di Filipina.
Semua terbingkai dalam peta Nusantara.
Atas jasanya itu, menurut kitab Negarakertagama, Gajah Madah dihadiahi wilaya Madakaripura.
Dikatakan bahwa ditempat ini Gajah Madah melakukan meditasi.
Misteri menyelimuti akhir hidup Mahapatih Gajah Mada yang dikisahkan melakukan meditasi terakhir dan moksa di Madakaripura, Probolinggo Jawa Timur.
Maha Patih Gajah Mada dikisahkan melakukan meditasi terakhir dan moksa di kawasan Madakaripura, Probolinggo.
Air terjun di kawasan Madakaripura di Probolinggo, Jawa Timur diduga merupakan tempat Mahapatih Gajah Mada melakukan meditasi terakhir hingga akhirnya moksa. *
Editor: Beny
*Disunting Dari berbagai sumber

Berita Terkait

Bey Machmudin Dampingi Menteri Luhut Binsar Panjaitan Luncurkan Buku Citarum Harum di Nusa Dua Bali
Rapat Paripurna DPRD Jabar Bahas Rekomendasi dan LKPJ Gubernur Jabar Tahun Anggaran 2023
Apartemen Gardenia Bogor Dinyatakan Pailit Oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat
Anggota Komisi V DPRD Jabar Hj. Siti Muntamah Menerima Kunjungan Sekolah SMPN 7 Membahas Terkait Karakter yang Wajib Dimiliki Pemimpin
Turun Langsung ke TKP Kecelakaan Bus Pariwisata di Subang, Kakorlantas: Pemeriksaan Awal Tak Temukan Jejak Rem di Lokasi
Ketua Pansus II Hj. Siti Muntamah Berharap Para Disabilitas Memperoleh Kesetaraan Hak Yang Sama
Hj. Siti Muntamah Peroleh Penghargaan PKS Jabar Award 2024, Sebagai Caleg Perempuan Dengan Perolehan Suara Terbanyak
Anggota DPRD Jabar Rita Puspita Melaksanakan Penyebarluasan Perda Tentang Penyelenggaraan Ekonomi Kreatif
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 24 Mei 2024 - 13:57 WIB

“Event Cycling De Jabar” Berpotensi Tingkatkan Pendapatan Daerah Dari Sektor Pariwisata Olah Raga Bersepeda

Jumat, 24 Mei 2024 - 13:38 WIB

Masyarakat Dibuat Penasaran Siapa Sosok Bakal Calon Pendamping Aba IDI

Jumat, 24 Mei 2024 - 10:42 WIB

“Forest Walk” Destinasi Wisata Alam di Pusat Kota Bandung Yang Wajib dikunjungi

Kamis, 23 Mei 2024 - 13:51 WIB

Mengapa Kota Bandung Menjadi Magnet Para Wisatawan, Berikut Ulasannya

Kamis, 23 Mei 2024 - 13:25 WIB

Jawa Barat Provinsi Dengan Perokok Terbanyak Ke-3 di Indonesia

Kamis, 23 Mei 2024 - 12:54 WIB

Komisi I DPRD Jabar dan Komisi II Kabupaten Solok Lakukan Konsultasi Terkait Penanganan Konflik Sosial Jelang Pilkada 2024

Rabu, 22 Mei 2024 - 04:02 WIB

Sat Pol PP Kota Bandung Sita 276 Botol Minuman Beralkohol dan 278 Butir Obat Daftar G Tanpa Izin

Rabu, 22 Mei 2024 - 03:49 WIB

Demo Terus Berlangsung DPD BIN Jatim Nilai Pj Bupati Sampang gagal Ciptakan Iklim Sejuk Dimasyarakat

Berita Terbaru